Powered By Blogger

Senin, 26 Januari 2015

Bimbingan dan Konseling

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang

Pelayanan Konseling yang mulai dikenal di Indonesia sejak dekade tahun 1960-an (semula dikenal dengan nama pelayanan Bimbingan dan Penyuluhan, kemudian berubah menjadi pelayanan Bimbingan dan Konseling) mendapat posisi yang cukup proporsional dan menentukan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dengan isi pokok materi yang tertuang di dalam Permendiknas No. 22 dan No. 23 tahun 2008 tentang Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan pada Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Pengertian kurikulum yang digunakan dalam KTSP adalah “seperangkat kegiatan belajar yang dijalani peserta didik yang menjadi tanggung jawab satuan pendidikan”. Dengan pengertian itu, KTSP meliputi sejumlah komponen pokok, yaitu komponen mata pelajaran dan muatan lokal, serta komponen pengembangan diri yang mencakup pelayanan konseling dan kegiatan ekstra kurikuler.
Pengertian kurikulum yang digunakan dalam KTSP adalah “semua kegiatan belajar peserta didik yang menjadi tanggung jawab satuan pendidikan”. Dengan pengertian tersebut, selain mata pelajaran, yang termasuk juga ke dalam kurikulum satuan pendidikan adalah muatan lokal, pelayanan konseling, dan kegiatan ekstra kurikler. Segenap komponen dan sub-komponen KTSP itu harus benar-benar dikembangkan dan dilaksanakan secara penuh oleh satuan pendidikan. Dengan demikian, komponen KTSP pada satuan pendidikan dianggap lengkap apabila meliputi seluruh komponen mata pelajaran, muatan lokal, pelayanan konseling, dan kegiatan ekstra kurikuler.
Pada era profesionalisasi, para pengampu bidang-bidang yang dimaksud haruslah mereka yang benar-benar profesional dalam bidangnya. Dalam kaitan ini, pelayanan konseling, yang merupakan salah satu pokok isi komponen KTSP, haruslah diampu oleh tenaga profesional yang disebut konselor sekolah.

B.     Rumusan Masalah

Dalam makalah ini kami akan menjelaskan mengenai:
1.      Apa saja komponen- komponen pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah?
2.      Apa yang dimaksud dengan pengumpulan data?
3.      Apa yang dimaksud dengan pemberian informasi?
4.      Apa yang dimaksud dengan penempatan?
5.      Apa yang dimaksud dengan konseling?
6.      Apa yang dimaksud dengan konsultasi?
7.      Apa yang dimaksud dengan evaluasi program?

C.     Tujuan
Tujuan dalam penulisan makalah ini adalah
1.      Dapat menyebutkan komponen- komponen pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah
2.      Dapat menjelaskan pengertian pengumpulan data
3.      Dapat menjelaskan pengertian pemberian informasi
4.      Dapat menjelaskan pengertian penempatan
5.      Dapat menjelaskan pengertian konseling
6.      Dapat menjelaskan pengertian konsultasi
7.      Dapat menjelaskan pengertian evaluasi program








BAB II

ISI

Bimbingan dan Konseling dilaksanakan melalui berbagai layanan, dengan mempertimbangkan kehidupan pribadi, kehidupan perkembangan, kehidupan pembelajaran serta perencanaan karir. Bentuk pelayanan bagi peserta didik dapat dikembangkan dengan menggunakan berbagai cara dan variasi sesuai kebutuhan sekolah, kekhasan atau karakteristik potensi daerah.

Dalam rangka pencapaian tujuan Bimbingan dan Konseling di sekolah, terdapat beberapa jenis layanan yang diberikan kepada siswa yang telah disebutkan pada makalah sebelumnya, diantaranya:
A.    Pengumpulan Data
      Merupakan kegiatan untuk menghimpun seluruh data dan keteransgan yang relevan dengan keperluan pengembangan peserta didik. Termasuk diantaranya:
a.       Aplikasi Instrumentasi Data
Merupakan kegiatan untuk mengumpulkan data dan keterangan tentang peserta didik, tentang lingkungan peserta didik dan lingkungan lainnya, yang dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai instrument, baik tes maupun non tes, dengan tujuan untuk memahami peserta didik dengan segala karakteristiknya dan memahami karakteristik lingkungan.
b.      Konferensi Kasus
Merupakan kegiatan untuk membahas permasalahan peserta didik dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan keterangan, kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan klien. Pertemuan konferensi kasus bersifat terbatas dan tertutup. Tujuan konferensi kasus adalah untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak yang terkait dan memiliki pengaruh kuat terhadap klien dalam rangka pengentasan permasalahan klien.
c.       Kunjungan Rumah
Merupakan kegiatan untuk memperoleh data, keterangan, kemudahan, dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan peserta didik melalui kunjungan rumah klien. Kerja sama dengan orang tua sangat diperlukan, dengan tujuan untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak orang tua/keluarga untuk mengentaskan permasalahan klien.
Aspek-aaspek yang dibutuhkan dalam rangka layanan pengumpulan data adalah sebagai berikut:
1.      Latar belakang keluarga
2.      Riwayat sekolah
3.      Taraf prestasi dalam bidang-bidang studi
4.      Taraf kemampuan intelektual
5.      Bakat khusus
6.      Minat dalam bidang studi
7.      Pengalama di luar sekolah
8.      Ciri-ciri kepribadian
9.      Kesehatan jasmani
B.     Pemberian Informasi
Layanan yang memungkinan peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi (seperti : informasi belajar, pergaulan, karier, pendidikan lanjutan). Tujuan layanan informasi adalah membantu peserta didik agar dapat mengambil keputusan secara tepat tentang sesuatu, Layanan informasi pun berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman.
Pelayanan ini bertujuan agar para siswa mengetahui cara-cara belajar yang efektif, jenis-jenis sekolah untuk melanjutkan pendidikan, jenis-jenis jabatan/pekerjaan yang ada dalam masyarakat, serta jenis-jenis organisasi atau lembaga-lembaga yang ada dalam masyarakat untuk selanjutnya bagi yang berpotensi, berbakat dan berminat dapat merencanakan untuk memasukinya apabila telah selesai menempuh pendidikan yang sekarang sedang berlangsung.
Pelayanan informasi tersebut meliputi informasi:
1.      Cara membagi waktu belajar, cara menyusun kegiatan belajar, cara belajar yang efektif, dan cara memilih teknik belajar.
2.      Jenis-jenis lembaga pendidikan formal dan non formal.
3.      Lembaga atau organisasi politik, ekonomi, social, budaya, agama, kesehatan, olahraga, pramuka dan sebagainya.
4.      Jenis-jenis jabatan/pekerjaan yanhg ada dalam masyarakat baik negeri maupun swasta.
5.      Syarat-syarat masing-masing jenis pekerjaan tersebut diatas.
Manfaat pelayanaan informasi sangat besar, terutama karena pelayanaan tersebut dapat mendorong motifasi untuk melanjutkan pelajaran, menambah kemampuan dan ketrampilan serta memilih pekerjaan yang sesuai dengan cita-citanya, membantu menyalurkan bakat dan cita-cita siswa, menunjang keberhasilan belajar, membantu merencanakan dalam memilih pekerjaan yang sesuai dengan bakat, latar belakang pendidikan, dan kepribadiannya.
C.     Penempatan
Layanan yang memungkinan peserta didik memperoleh penempatan dan penyaluran di dalam kelas, kelompok belajar, jurusan/program studi, program latihan, magang, kegiatan ko/ekstra kurikuler, dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan segenap bakat, minat dan segenap potensi lainnya. Layanan Penempatan dan Penyaluran berfungsi untuk pengembangan.
Tujuan pelayanan penempatan ialah agar siswa dapat mencapai keberhasilan dalam belajar. Untuk itu diberikanlah pelayanan penenpatan dalam kelas, penempatan dalam jurusan, atau program yang sesuai dengan bakat, kemampuan dan minatnya, penempatan dalam kelompok belajar yang sesuai, penempatan dalam kegiatan ekstrakurikuler sesuai bakat, minat, kemampuan dan sesuai dengan pola atau kondisi kepribadiannya. Bagi siswa yang melanjutkan ke perguruan tinggi dibantu untuk memilih jurusan dan fakultas yang sesuai dengan aspirasinya (cita-citanya).
Selai itu pelayanan penempatan juga bertujaun menolong siswa agar dapat terhindar dari kesalahan dalam memilih atau memasuki lapangan kerja (jabatan, pekerjaan). Untuk itu dapat diberikan the job training, diberikan kesempatan kerja, kerja part time dan diberikan beberapa alternative jenis atau sifat pekerjaan sesuai dengan prestasi sekolah, bakat dan minat, cita-cita dan sifat kepribadiannya.
Manfaat pelayanan penempatan adalah membantu siswa agar dapat berhasil dalam belajar, dapat mencari dan memilih pekerjaan setelah tamat belajar, potensi siswa dapat berkembang, dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan dan menunjang tercapainya cita-cita.
Siswa yang memperolah pelayanan penempatan yang tepat memungkinkan dia dapat meneruskan pendidikannya dengan sukses dan dapat menduduki jabatan (pekerjaan) secara professional yang akan mengantarkannya kepada situasi “at Home”, sejahtera dalam pekerjaan.  
D.    Konseling
 Untuk memahami konsep dasar konseling diperlukan pemahaman terhadap akar historis dan kultural perkembangan layanan bantuan ini. Pada periode pra-industrial, orang-orang yang memiliki masalah emosional ditolong oleh para anggota komunitas lainnya. Seiring dengan revolusi industri dan peningkatan sekulerisasi dalam masyarakat, pada abad 19 muncul institusi dan profesi baru yang melayani masalah “gangguan mental”. Pada pertengahan abad 19, mesmerisme (hipnotis) merupakan bentuk terapi psikologi yang digunakan secara luas. Di penghujung abad 19,Freud mengintegrasikan berbagai pemikiran psikologi, medis dan filosofi dalam sebuah sistem psikoterapi lengkap pertama yang kemudian dikenal dengan sebutan psikoanalisis. 
 Kata konseling (konseling) berasal dari kata counsel dari bahasa latin counselium yang artinya “bersama” atau “bicara bersama”
Pengertian konseling menurut para ahli[1] :
1.      Menurut Schertzer dan Stone (1980), konseling adalah upaya membantu
individu melalui proses interaksi yang bersifat pribadi antara konselor dan konseli agar konseli mampu memahamidiri dan lingkungannya, mampu membuat keputusan dan menentukan tujuan berdasarkan nilai yang diyakininya sehingga konseli merasa bahagia dan efektif perilakunya.
2.      Menurut popinsky & Pepinsky, konseling adalah interaksi antara dua orang individu yaitu konselor dan klien. Interaksi terjadi dalam suasana yang professional, dilakukan dan dijaga sebagai alat untuk memudahkan perubahan-perubahan dalam tingkah laku klien.
3.      Menurut Division of Counseling Psychology, konseling merupakan suatu proses untuk membantu individu mengatasi hambatan-hambatan perkembangan dirinya dan mencapai perkembangan kemampuan pribadi yang dimilikinya secara optimal.
4.      Menurut ASCA (American School Conselor Association), konseling adalah hubungan tatap muka yang bersifat rahasia, penuh dengan sikap penerimaan dan pemberian kesempatan dari konselor kepada klien. Konselor mempergunakan pengetahuan dan keterampilannya untuk membantu klien mengatasi masalah-masalahnya.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa konseling adalah proses bantuan kepada seorang atau individu agar orang tersebut dapat memahami dan menerima keadaan dirinya sendiri dan keadaan lingkungan disekitarnya serta membantu orang tersebut untuk menyesuaikan diri secara positif agar tercipta kehidupan yang lebih baik.
Beberapa kesalahan pengertian konseling:
1.      Konseling sebagai usaha pemberian nasihat
2.      Konseling sebagai usaha pemberian informasi
3.      Konseling menciptakan ketergantungan kepada konselor
4.      Konseling mempengaruhi klien
5.      Konseling sama dengan intervensi
Manfaat diadakannya konseling[2] :
1.      Akan membuat diri kita merasa lebih baik, merasa lebih bahagia, tenang dan nyaman karena konseling tersebut membantu kita untuk menerimasetiap sisi yang ada di dalam diri kita
2.      Membantu menurunkan bahkan menghilangkan tingkat stress dan depresi yang kita alami karena kita dibantu untuk mencari sumber stress tersebut serta dibantu pula mencari cara penyelesaian terbaik dari permasalahan yang belum terselesaikan.
3.      Perkembangan personal akan meningkat secara positif karena adanya bimbingan konseling ini.
4.      Meningkatkan hubungan yang efektif dengan orang lain serta dapat berdamai dengan diri sendiri.
Macam-macam konseling[3] :
1.      Konseling Adlerian
2.      Konseling Eksistensial
3.      Konseling Gestalt
4.      Konseling Kognitif Back
5.      Konseling Kognitif Perilaku
6.      Konseling Realita
7.      Konseling Psikoanalisa
8.      Konseling Rasional-Emotif
9.      Konseling Berpusat pada Pribadi
Langkah-langkah konselor dalam melakukan konseling[4] :
1.      Mendefinisikan masalah melalui mendengar aktif
Pada tahap ini konselor mendengarkandengan aktif dalam rangka membangun rapport dengan konseli. Postur tubuh yang terbuka dan santai mengundang konseli untuk terbuka. Pada tahap ini juga disepakati lamanya waktu konseling. Ketika konseli telah terbuka untuk mendiskusikan masalahnya, konselor perlu memperhatikan tiga poin penting (1) masalah yang belum terpecahkan, (2) perasaan terhadap masalah tersebut, (3) harapan-harapan terhadap apa yang harus konselor lakukan untuk mengatasi masalah.
2.      Mengklarifikasi ekspetasi konseli
Konselor mendiskusikan kemungkinan pencapaian ekspetasi konseli dalam konseling. Ekspetasi-ekspetasi konseli harus realistis dengan kondisi dirinya dan lingkungannya. Misalnya, konselor tidak mungkin memecat guru mata pelajaran.
3.      Mengeksplorasi hal-hal yang sudah dilakukan untuk mengatasi masalah
Konselor mendiskusikan usaha-usaha yang telah dilakukan konseli dalam mengatasi masalah yang dihadapinya. Dalam hal ini konselor sebaiknya menggunakan pernyataan (statements) daripada pertanyaan (questions) untuk menghindari suasana seperti menginterogasi.
4.      Mengeksplorasi hal-hal baru yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah
Langkah keempat adalah sesi brainstorming dimana konselor mendorong konseli untuk mengembangkan alternatif penyelesaian masalah sebanyak-banyaknya . kemudian menilai semua alternatif tersebut. Thompson dan Poppen (1992) merekomendasikan untuk menggunakan kertas untuk membuat daftar alternatif penyelesaian masalah. Proses ini sangat penting bagi konseli karena ia belajar untuk mencari penyelesaian masalah secara mandiri.
5.      Membuat komitmen untuk mencoba alternatif kegiatan yang dipilih untuk mengatasi masalah
Setelah konseli mempertinbangkan alternative terbaik dan yang paling sesuai dengan dirinya dan lingkungan, komselor membangun komitmen konseli untuk melaksanakan alternatif tersebut. Pada tahap ini mungkin akan terjadi penolakan dari konseli untuk melaksanakan alternatif pemecahan masalahnya.untuk itu konselor mendiskusikan alternatif penyelesaian masalah yang paling mudah dilakukan terlebih dahulu.
6.      Menutup wawancara konseling
Setelah konseli telah melaksanakan alternatif penyelesaian masalah, konselor mendiskusikan dan mereview pencapaian penyelesaian masalah.kemudian bersama-sama membuat kesimpulan dan membuat rencana tindak lanjut konseling.

E.     Konsultasi
Sejak tahun 1993 penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling meperoleh perbendaharaan istilah baru yaitu BK pola-17. Pada abad ke-21, BK pola-17 itu berkembang menjadi BK Pola-17 Plus. Layanan konsultasi merupakan salah satu jenis layanan BK Pola-17 plus.
Konsultasi adalah bantuan dari konselor kepada klien dimana klien sebagai konsultan dan klien sebagai konsulti, membahas tentang masalah pihak ketiga. Pihak ketiga yang dibicarakan adalah orang yang merasa dipertanggungjawabkan konsulti, misalnya anak, murid, atau orangtuanya.
Macam konsultasi itu sendiri meliputi[5] :
1.      Provision, adalah konsultan memberikan pelayanan langsung kepada konsulti yang tidak memiliki waktu ataupun keterampilan dalam menyelesaikan masalahnya.
2.      Prescription, adalah konsultan memberikan nasehat dan tidak ikut turut dalam membantu proses penyelesaian masalah yang sedang dihadapi oleh konsulti.
3.      Mediation, adalah konsultan berperan sebagai mediator dalam menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi oleh konsulti.
4.      Collaboration, adalah konsultan bersama dengan konsulti menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi .
Tujuan layanan konsultasi yaitu sebagai berikut[6] :
1.      Tujuan umum
Layanan konsultasi bertujuan agar konsulti dengan kemampuannya sendiri dapat menangani kondisi dan permasalahan pihak ketiga. Dalam hal ini pihak ketiga mempunyai hubungan yang cukup berarti dengan konsulti, sehingga permasalahan yang dialami oleh pihak ketiga itu sebagian menjadi tanggung jawab konsulti.
2.      Tujuan khusus
Kemampuan sendiri yang dimaksudkan diatas dapat berupa wawasan, pemahaman dan cara-cara bertindak yang terkait langsung dengan suasana dan/atau permasalahan pihak ketiga itu (fungsi pemahaman). Dengan kemmapuan sendiri itu konsulti akan melakukan sesuatu (sebagai bentuk langsung dari hasil konsultasi) terhadap pihak ketiga.

F.      Evaluasi Program
Penilaian merupakan salah satu langkah penting dalam manajemen program konseling. Dengan penilaian, kita dapat mengetahui dan mengidentifikasi keberhasilan pelaksanaan program bimbingan yang telah direncanakan. Evaluasi pelaksanaan program konseling merupakan upaya tindakan atau proses menentukan derajat kualitas kemajuan kegiatan yang berkaitan dengan pelaksanaan program konseling dengan mengacu pada patokan-patokan tertentu sesuai dengan program bimbingan dan konseling yang dilaksanakan. Sehubungan dengan ini, Schertzer dan Stone (1966) mengemukakan pendapatnya: “Evaluation consist of making systematic judgements of the relative effectiveness with which goals are attained in relation to special standards”.
Evaluasi sebagai proses pengumpulan informasi untuk mengetahui efektivitas kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan dalam upaya mengambil keputusan. Dengan informasi ini dapat diketahui sampai sejauh mana derajat keberhasilan kegiatan layanan bimbingan. Adapun tujuan kegiatan evaluasi adalah untuk mengetahui keterlaksanaan kegiatan dan ketercapaian tujuan dari program yang telah ditetapkan.
Sedangkan fungsi evaluasi program konseling yaitu :
1.      Memberikan umpan balik kepada konselor untuk memperbaiki atau mengembangkan program konselingnya.
2.      Memberikan informasi kepada orangtua dan keluarga konseli tentang perkembangan sikap dan perilaku, atau tingkat ketercapaian tugas-tugas perkembangan  konseli agar secara bersinergi meningkatkan kualitas implementasi program bimbingan dan konseling tersebut.
Evaluasi program pelaksanaan konseling harus disesuaikan dengan pola dasar pedoman operasional pelayanan konseling. Kegiatan operasional dari masing-masing pelayanan hendaknya disusun dalam suatu sistematika yang rinci diantaranya[7] :
1.      Tujuan khusus pelayanan konseling
2.      Kriteria keberhasilan  pelayanan konseling
3.      Lingkup pelayanan konseling
4.      Rincian dan jadwal kegiatan pelayanan konseling
5.      Metode dan teknik layanan konseling
6.      Sarana pelayanan konseling
7.      Evaluasi dan penelitian pelayanan konseling
8.      Evaluasi proses dan hasil
Terdapat dua aspek yang dievaluasi, yaitu aspek penilaian proses dan aspek penilaian hasil. Penilaian proses dimaksudkan untuk mengetahui sampai sejauh mana keefektivan layanan dilihat dari prosesnya, sedangkan penilaian hasil dimaksudkan untuk memperoleh informasi keefektivan layanan dilihat dari hasilnya.
      Yang termasuk dalam aspek penilaian proses yaitu kesesuaian antara pelaksanaan dan rancangan program, tingkat partisipasi personel, hambatan-hambatan yang dialami, dan respon dari konseli, keluarga serta kepala sekolah. Sedangkan yang termasuk dalam aspek penilaian hasil yaitu kualitas ketaqwaan kepada Tuhan YME, kualitas hasil belajar, kualitas sikap social siswa, kualitas kedisiplinan siswa dan prestasi belajar.
Dalam melaksanakan evaluasi program ditempuh langkah-langkah berikut[8] :
1.      Merumuskan masalah atau beberapa pertanyaan. Pertanyaan yang disiapkan harus terkait dengan dengan dua aspek pokok yang dievaluasi : (1) tingkat keterlaksanaan program dan (2) tingkat ketercapaian tujuan program.
2.      Mengembangkan dan menyusun instrument pengumpul data. Untuk memperoleh data yang diperlukan, maka konselor perlu menyusun instrumen yang relevan dengan kedua aspek diatas. Instrumen itu diantaranya inentori, angket, pedoman wawancara, pedoman observasi dan studi dokumentasi.
3.      Mengumpulkan dan menganalisis data. Setelah data diperoleh, maka data itu dianalisis. Yaitu menelaah tentang program apa saja yang telah dan belum dilaksanakan, serta tujuan mana saja yang telah dan belum tercapai
4.      Melakukan tindak lanjut (follow up). Berdasarkan temuan yang diperoleh, maka dapat dilakukan kegiatan tindak lanjut, yaitu : (1) memperbaiki hal-hal yang dipandang lemah, kurang tepat, atau tujuan yang ingin dicapai dan (2) mengembangkan program, dengan cara merubah atau menambah beberapa hal yang dipandang tepat untuk meningkatkan efektivitas program.









BAB III
PENUTUP
  1. Kesimpulan
1.      Komponen- komponen di dalam pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah yaitu pengumpulan data, pemberian informasi, penempatan, konseling, konsultasi, dan evaluasi program
2.      Masing-masing komponen memiliki fungsi khusus dalam pelaksanaannya
  1. Saran
Demi tercapainya pembelajaran bimbingan dan konseling yang baik di sekolah, seorang guru BK juga seharusnya memperhatikan setiap komponen-komponen peayanan yang diberikannya.











Daftar Pustaka

[1] Hasan, Pengertian Konseling. Diakses dari http://www.kulpulan-materi.blogspot.com/2012/04/pengertian-konseling.html  pada tanggal 8 maret 2013 pukul 11.35 WIB
[2] Anneahira. Pengertian,Tujuan, dan Manfaat Bimbingan Konseling. Diakses dari http://anneahira.com/bimbingan konseling.htm . pada tanggal 8 maret 2013 pukul 11.25 WIB
[3] Amar Faruq. Jendela Psikologi Pendidikan Indonesia. Diakses dari http://amarfaruqspd.blogspot.com/2010/08/macam-macam-konseling.html pada tanggal 8 maret 2013 pukul 11.28 WIB
[4] Gantina Komalasari, Teori dan Teknik Konseling, Indeks, Jakarta, 2011, hlm. 28.

[5] Zona Prasko. Pengertian konsultasi dan proses konsultasi. Diakses dari http://zona-prasko.blogspot.com/2012/10/pengertian-konsultasi-dan-proses.html?m=1 pada tanggal 9 maret 2013 pukul 16.27 WIB
[6] Prayitno, Layanan Konseling, BK FIP, Padang, 2004, hlm. 24.
[7] Akhmad Harum. Penyelenggaraan Evaluasi Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Diakses dari http://www.bukunnq.wordpress.com/penyelenggaraan-evaluasi-pelaksanaan-bimbingan-dan-konseling pada tanggal 8 maret 2013 pukul 11.42 WIB
[8] Akhmad Sudrajat. Konsep Evaluasi Program Bimbingan danKonseling. Diakses dari http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2012/02/03/evaluasi-program-bimbingan-dan-konseling . pada tanggal 8 maret 2013 pukul 11.38 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar