BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pelayanan Konseling yang mulai
dikenal di Indonesia sejak dekade tahun 1960-an (semula dikenal dengan nama
pelayanan Bimbingan dan Penyuluhan, kemudian berubah menjadi pelayanan
Bimbingan dan Konseling) mendapat posisi yang cukup proporsional dan menentukan
dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dengan isi pokok materi yang
tertuang di dalam Permendiknas No. 22 dan No. 23 tahun 2008 tentang Standar Isi
dan Standar Kompetensi Lulusan pada Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.
Pengertian kurikulum yang digunakan dalam KTSP adalah “seperangkat kegiatan
belajar yang dijalani peserta didik yang menjadi tanggung jawab satuan
pendidikan”. Dengan pengertian itu, KTSP meliputi sejumlah komponen pokok,
yaitu komponen mata pelajaran dan muatan lokal, serta komponen pengembangan
diri yang mencakup pelayanan konseling dan kegiatan ekstra kurikuler.
Pengertian kurikulum yang digunakan
dalam KTSP adalah “semua kegiatan belajar peserta didik yang menjadi tanggung
jawab satuan pendidikan”. Dengan pengertian tersebut, selain mata pelajaran,
yang termasuk juga ke dalam kurikulum satuan pendidikan adalah muatan lokal,
pelayanan konseling, dan kegiatan ekstra kurikler. Segenap komponen dan
sub-komponen KTSP itu harus benar-benar dikembangkan dan dilaksanakan secara
penuh oleh satuan pendidikan. Dengan demikian, komponen KTSP pada satuan
pendidikan dianggap lengkap apabila meliputi seluruh komponen mata pelajaran,
muatan lokal, pelayanan konseling, dan kegiatan ekstra kurikuler.
Pada era profesionalisasi, para
pengampu bidang-bidang yang dimaksud haruslah mereka yang benar-benar
profesional dalam bidangnya. Dalam kaitan ini, pelayanan konseling, yang
merupakan salah satu pokok isi komponen KTSP, haruslah diampu oleh tenaga
profesional yang disebut konselor sekolah.
B.
Rumusan Masalah
Dalam makalah ini kami akan menjelaskan mengenai:
1.
Apa saja komponen- komponen pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah?
2.
Apa yang dimaksud dengan pengumpulan data?
3.
Apa yang dimaksud dengan pemberian informasi?
4.
Apa yang dimaksud dengan penempatan?
5.
Apa yang dimaksud dengan konseling?
6.
Apa yang dimaksud dengan konsultasi?
7.
Apa yang dimaksud dengan evaluasi program?
C.
Tujuan
Tujuan dalam penulisan makalah ini adalah
1.
Dapat menyebutkan komponen- komponen pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah
2.
Dapat menjelaskan pengertian pengumpulan data
3.
Dapat menjelaskan pengertian pemberian informasi
4.
Dapat menjelaskan pengertian penempatan
5.
Dapat menjelaskan pengertian konseling
6.
Dapat menjelaskan pengertian konsultasi
7.
Dapat menjelaskan pengertian evaluasi program
BAB II
ISI
Bimbingan dan Konseling dilaksanakan melalui berbagai layanan, dengan mempertimbangkan kehidupan pribadi, kehidupan perkembangan, kehidupan pembelajaran serta perencanaan karir. Bentuk pelayanan bagi peserta didik dapat dikembangkan dengan menggunakan berbagai cara dan variasi sesuai kebutuhan sekolah, kekhasan atau karakteristik potensi daerah.
Dalam rangka pencapaian tujuan Bimbingan dan Konseling di sekolah, terdapat
beberapa jenis layanan yang diberikan kepada siswa yang telah disebutkan pada
makalah sebelumnya, diantaranya:
A.
Pengumpulan
Data
Merupakan
kegiatan untuk menghimpun seluruh data dan keteransgan yang relevan dengan
keperluan pengembangan peserta didik. Termasuk diantaranya:
a. Aplikasi Instrumentasi Data
Merupakan kegiatan untuk
mengumpulkan data dan keterangan tentang peserta didik, tentang lingkungan
peserta didik dan lingkungan lainnya, yang dapat dilakukan dengan menggunakan
berbagai instrument, baik tes maupun non tes, dengan tujuan untuk memahami peserta
didik dengan segala karakteristiknya dan memahami karakteristik lingkungan.
b.
Konferensi Kasus
Merupakan
kegiatan untuk membahas permasalahan peserta didik dalam suatu pertemuan yang
dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan keterangan, kemudahan dan
komitmen bagi terentaskannya permasalahan klien. Pertemuan konferensi kasus
bersifat terbatas dan tertutup. Tujuan konferensi kasus adalah untuk memperoleh
keterangan dan membangun komitmen dari pihak yang terkait dan memiliki pengaruh
kuat terhadap klien dalam rangka pengentasan permasalahan klien.
c.
Kunjungan Rumah
Merupakan
kegiatan untuk memperoleh data, keterangan, kemudahan, dan komitmen bagi
terentaskannya permasalahan peserta didik melalui kunjungan rumah klien. Kerja
sama dengan orang tua sangat diperlukan, dengan tujuan untuk memperoleh
keterangan dan membangun komitmen dari pihak orang tua/keluarga untuk
mengentaskan permasalahan klien.
Aspek-aaspek
yang dibutuhkan dalam rangka layanan pengumpulan data adalah sebagai berikut:
1. Latar belakang keluarga
2. Riwayat sekolah
3. Taraf prestasi dalam bidang-bidang studi
4. Taraf kemampuan intelektual
5. Bakat khusus
6. Minat dalam bidang studi
7. Pengalama di luar sekolah
8. Ciri-ciri kepribadian
9. Kesehatan jasmani
B.
Pemberian
Informasi
Layanan yang memungkinan
peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi (seperti : informasi
belajar, pergaulan, karier, pendidikan lanjutan). Tujuan layanan informasi
adalah membantu peserta didik agar dapat mengambil keputusan secara tepat
tentang sesuatu, Layanan informasi pun berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman.
Pelayanan ini bertujuan agar para siswa mengetahui cara-cara belajar
yang efektif, jenis-jenis sekolah untuk melanjutkan pendidikan, jenis-jenis
jabatan/pekerjaan yang ada dalam masyarakat, serta jenis-jenis organisasi atau
lembaga-lembaga yang ada dalam masyarakat untuk selanjutnya bagi yang
berpotensi, berbakat dan berminat dapat merencanakan untuk memasukinya apabila
telah selesai menempuh pendidikan yang sekarang sedang berlangsung.
Pelayanan informasi tersebut meliputi informasi:
1.
Cara
membagi waktu belajar, cara menyusun kegiatan belajar, cara belajar yang
efektif, dan cara memilih teknik belajar.
2.
Jenis-jenis
lembaga pendidikan formal dan non formal.
3.
Lembaga
atau organisasi politik, ekonomi, social, budaya, agama, kesehatan, olahraga,
pramuka dan sebagainya.
4.
Jenis-jenis
jabatan/pekerjaan yanhg ada dalam masyarakat baik negeri maupun swasta.
5.
Syarat-syarat
masing-masing jenis pekerjaan tersebut diatas.
Manfaat pelayanaan informasi sangat besar, terutama karena pelayanaan
tersebut dapat mendorong motifasi untuk melanjutkan pelajaran, menambah
kemampuan dan ketrampilan serta memilih pekerjaan yang sesuai dengan
cita-citanya, membantu menyalurkan bakat dan cita-cita siswa, menunjang
keberhasilan belajar, membantu merencanakan dalam memilih pekerjaan yang sesuai
dengan bakat, latar belakang pendidikan, dan kepribadiannya.
C.
Penempatan
Layanan yang memungkinan
peserta didik memperoleh penempatan dan penyaluran di dalam kelas, kelompok
belajar, jurusan/program studi, program latihan, magang, kegiatan ko/ekstra
kurikuler, dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan segenap bakat,
minat dan segenap potensi lainnya. Layanan Penempatan dan Penyaluran berfungsi untuk
pengembangan.
Tujuan pelayanan penempatan ialah agar siswa dapat mencapai
keberhasilan dalam belajar. Untuk itu diberikanlah pelayanan penenpatan dalam
kelas, penempatan dalam jurusan, atau program yang sesuai dengan bakat,
kemampuan dan minatnya, penempatan dalam kelompok belajar yang sesuai, penempatan
dalam kegiatan ekstrakurikuler sesuai bakat, minat, kemampuan dan sesuai dengan
pola atau kondisi kepribadiannya. Bagi siswa yang melanjutkan ke perguruan
tinggi dibantu untuk memilih jurusan dan fakultas yang sesuai dengan
aspirasinya (cita-citanya).
Selai itu pelayanan penempatan juga bertujaun menolong siswa agar dapat
terhindar dari kesalahan dalam memilih atau memasuki lapangan kerja (jabatan,
pekerjaan). Untuk itu dapat diberikan the job training, diberikan kesempatan
kerja, kerja part time dan diberikan beberapa alternative jenis atau sifat
pekerjaan sesuai dengan prestasi sekolah, bakat dan minat, cita-cita dan sifat
kepribadiannya.
Manfaat pelayanan penempatan adalah membantu siswa agar dapat berhasil
dalam belajar, dapat mencari dan memilih pekerjaan setelah tamat belajar,
potensi siswa dapat berkembang, dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan dan
menunjang tercapainya cita-cita.
Siswa yang memperolah pelayanan penempatan yang tepat memungkinkan dia
dapat meneruskan pendidikannya dengan sukses dan dapat menduduki jabatan
(pekerjaan) secara professional yang akan mengantarkannya kepada situasi “at
Home”, sejahtera dalam pekerjaan.
D. Konseling
Untuk memahami konsep dasar konseling
diperlukan pemahaman terhadap akar historis dan kultural perkembangan layanan
bantuan ini. Pada periode pra-industrial, orang-orang yang memiliki masalah
emosional ditolong oleh para anggota komunitas lainnya. Seiring dengan revolusi
industri dan peningkatan sekulerisasi dalam masyarakat, pada abad 19 muncul
institusi dan profesi baru yang melayani masalah “gangguan mental”. Pada
pertengahan abad 19, mesmerisme (hipnotis) merupakan bentuk terapi psikologi
yang digunakan secara luas. Di penghujung abad 19,Freud mengintegrasikan
berbagai pemikiran psikologi, medis dan filosofi dalam sebuah sistem
psikoterapi lengkap pertama yang kemudian dikenal dengan sebutan
psikoanalisis.
Kata
konseling (konseling) berasal dari kata counsel dari bahasa latin counselium
yang artinya “bersama” atau “bicara bersama”
Pengertian konseling menurut para ahli[1]
:
1. Menurut Schertzer dan Stone (1980), konseling
adalah upaya membantu
individu melalui proses interaksi yang
bersifat pribadi antara konselor dan konseli agar konseli mampu memahamidiri
dan lingkungannya, mampu membuat keputusan dan menentukan tujuan berdasarkan
nilai yang diyakininya sehingga konseli merasa bahagia dan efektif perilakunya.
2. Menurut popinsky & Pepinsky,
konseling adalah interaksi antara dua orang individu yaitu konselor dan klien.
Interaksi terjadi dalam suasana yang professional, dilakukan dan dijaga sebagai
alat untuk memudahkan perubahan-perubahan dalam tingkah laku klien.
3. Menurut Division of Counseling
Psychology, konseling merupakan suatu proses untuk membantu individu mengatasi
hambatan-hambatan perkembangan dirinya dan mencapai perkembangan kemampuan
pribadi yang dimilikinya secara optimal.
4. Menurut ASCA (American School Conselor
Association), konseling adalah hubungan tatap muka yang bersifat rahasia, penuh
dengan sikap penerimaan dan pemberian kesempatan dari konselor kepada klien.
Konselor mempergunakan pengetahuan dan keterampilannya untuk membantu klien
mengatasi masalah-masalahnya.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa konseling
adalah proses bantuan kepada seorang atau individu agar orang tersebut dapat
memahami dan menerima keadaan dirinya sendiri dan keadaan lingkungan
disekitarnya serta membantu orang tersebut untuk menyesuaikan diri secara
positif agar tercipta kehidupan yang lebih baik.
Beberapa kesalahan pengertian konseling:
1. Konseling sebagai usaha pemberian
nasihat
2. Konseling sebagai usaha pemberian
informasi
3. Konseling menciptakan ketergantungan
kepada konselor
4. Konseling mempengaruhi klien
5. Konseling sama dengan intervensi
Manfaat diadakannya konseling[2]
:
1. Akan membuat diri kita merasa lebih
baik, merasa lebih bahagia, tenang dan nyaman karena konseling tersebut
membantu kita untuk menerimasetiap sisi yang ada di dalam diri kita
2. Membantu menurunkan bahkan menghilangkan
tingkat stress dan depresi yang kita alami karena kita dibantu untuk mencari
sumber stress tersebut serta dibantu pula mencari cara penyelesaian terbaik
dari permasalahan yang belum terselesaikan.
3. Perkembangan personal akan meningkat
secara positif karena adanya bimbingan konseling ini.
4. Meningkatkan hubungan yang efektif
dengan orang lain serta dapat berdamai dengan diri sendiri.
Macam-macam konseling[3]
:
1. Konseling Adlerian
2. Konseling Eksistensial
3. Konseling Gestalt
4. Konseling Kognitif Back
5. Konseling Kognitif Perilaku
6. Konseling Realita
7. Konseling Psikoanalisa
8. Konseling Rasional-Emotif
9. Konseling Berpusat pada Pribadi
Langkah-langkah konselor dalam melakukan konseling[4]
:
1. Mendefinisikan masalah melalui mendengar
aktif
Pada
tahap ini konselor mendengarkandengan aktif dalam rangka membangun rapport
dengan konseli. Postur tubuh yang terbuka dan santai mengundang konseli untuk
terbuka. Pada tahap ini juga disepakati lamanya waktu konseling. Ketika konseli
telah terbuka untuk mendiskusikan masalahnya, konselor perlu memperhatikan tiga
poin penting (1) masalah yang belum terpecahkan, (2) perasaan terhadap masalah
tersebut, (3) harapan-harapan terhadap apa yang harus konselor lakukan untuk
mengatasi masalah.
2. Mengklarifikasi ekspetasi konseli
Konselor
mendiskusikan kemungkinan pencapaian ekspetasi konseli dalam konseling.
Ekspetasi-ekspetasi konseli harus realistis dengan kondisi dirinya dan
lingkungannya. Misalnya, konselor tidak mungkin memecat guru mata pelajaran.
3. Mengeksplorasi hal-hal yang sudah
dilakukan untuk mengatasi masalah
Konselor
mendiskusikan usaha-usaha yang telah dilakukan konseli dalam mengatasi masalah
yang dihadapinya. Dalam hal ini konselor sebaiknya menggunakan pernyataan
(statements) daripada pertanyaan (questions) untuk menghindari suasana seperti
menginterogasi.
4. Mengeksplorasi hal-hal baru yang dapat
dilakukan untuk mengatasi masalah
Langkah
keempat adalah sesi brainstorming dimana konselor mendorong konseli untuk
mengembangkan alternatif penyelesaian masalah sebanyak-banyaknya . kemudian
menilai semua alternatif tersebut. Thompson dan Poppen (1992) merekomendasikan
untuk menggunakan kertas untuk membuat daftar alternatif penyelesaian masalah.
Proses ini sangat penting bagi konseli karena ia belajar untuk mencari
penyelesaian masalah secara mandiri.
5. Membuat komitmen untuk mencoba alternatif
kegiatan yang dipilih untuk mengatasi masalah
Setelah
konseli mempertinbangkan alternative terbaik dan yang paling sesuai dengan
dirinya dan lingkungan, komselor membangun komitmen konseli untuk melaksanakan
alternatif tersebut. Pada tahap ini mungkin akan terjadi penolakan dari konseli
untuk melaksanakan alternatif pemecahan masalahnya.untuk itu konselor
mendiskusikan alternatif penyelesaian masalah yang paling mudah dilakukan
terlebih dahulu.
6. Menutup wawancara konseling
Setelah
konseli telah melaksanakan alternatif penyelesaian masalah, konselor
mendiskusikan dan mereview pencapaian penyelesaian masalah.kemudian
bersama-sama membuat kesimpulan dan membuat rencana tindak lanjut konseling.
E. Konsultasi
Sejak
tahun 1993 penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling meperoleh
perbendaharaan istilah baru yaitu BK pola-17. Pada abad ke-21, BK pola-17 itu
berkembang menjadi BK Pola-17 Plus. Layanan konsultasi merupakan salah satu
jenis layanan BK Pola-17 plus.
Konsultasi
adalah bantuan dari konselor kepada klien dimana klien sebagai konsultan dan
klien sebagai konsulti, membahas tentang masalah pihak ketiga. Pihak ketiga
yang dibicarakan adalah orang yang merasa dipertanggungjawabkan konsulti,
misalnya anak, murid, atau orangtuanya.
Macam
konsultasi itu sendiri meliputi[5]
:
1. Provision, adalah konsultan memberikan
pelayanan langsung kepada konsulti yang tidak memiliki waktu ataupun
keterampilan dalam menyelesaikan masalahnya.
2. Prescription, adalah konsultan
memberikan nasehat dan tidak ikut turut dalam membantu proses penyelesaian
masalah yang sedang dihadapi oleh konsulti.
3. Mediation, adalah konsultan berperan
sebagai mediator dalam menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi oleh konsulti.
4. Collaboration, adalah konsultan bersama
dengan konsulti menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi .
Tujuan
layanan konsultasi yaitu sebagai berikut[6]
:
1. Tujuan umum
Layanan
konsultasi bertujuan agar konsulti dengan kemampuannya sendiri dapat menangani
kondisi dan permasalahan pihak ketiga. Dalam hal ini pihak ketiga mempunyai
hubungan yang cukup berarti dengan konsulti, sehingga permasalahan yang dialami
oleh pihak ketiga itu sebagian menjadi tanggung jawab konsulti.
2. Tujuan khusus
Kemampuan
sendiri yang dimaksudkan diatas dapat berupa wawasan, pemahaman dan cara-cara
bertindak yang terkait langsung dengan suasana dan/atau permasalahan pihak
ketiga itu (fungsi pemahaman). Dengan kemmapuan sendiri itu konsulti akan
melakukan sesuatu (sebagai bentuk langsung dari hasil konsultasi) terhadap
pihak ketiga.
F. Evaluasi Program
Penilaian
merupakan salah satu langkah penting dalam manajemen program konseling. Dengan
penilaian, kita dapat mengetahui dan mengidentifikasi keberhasilan pelaksanaan
program bimbingan yang telah direncanakan. Evaluasi pelaksanaan program
konseling merupakan upaya tindakan atau proses menentukan derajat kualitas
kemajuan kegiatan yang berkaitan dengan pelaksanaan program konseling dengan
mengacu pada patokan-patokan tertentu sesuai dengan program bimbingan dan
konseling yang dilaksanakan. Sehubungan dengan ini, Schertzer dan Stone (1966)
mengemukakan pendapatnya: “Evaluation
consist of making systematic judgements of the relative effectiveness with
which goals are attained in relation to special standards”.
Evaluasi sebagai proses pengumpulan
informasi untuk mengetahui efektivitas kegiatan-kegiatan yang telah
dilaksanakan dalam upaya mengambil keputusan. Dengan informasi ini dapat
diketahui sampai sejauh mana derajat keberhasilan kegiatan layanan bimbingan.
Adapun tujuan kegiatan evaluasi adalah untuk mengetahui keterlaksanaan kegiatan
dan ketercapaian tujuan dari program yang telah ditetapkan.
Sedangkan fungsi evaluasi program konseling yaitu :
1. Memberikan umpan balik kepada konselor
untuk memperbaiki atau mengembangkan program konselingnya.
2. Memberikan informasi kepada orangtua dan
keluarga konseli tentang perkembangan sikap dan perilaku, atau tingkat
ketercapaian tugas-tugas perkembangan
konseli agar secara bersinergi meningkatkan kualitas implementasi
program bimbingan dan konseling tersebut.
Evaluasi program pelaksanaan konseling harus
disesuaikan dengan pola dasar pedoman operasional pelayanan konseling. Kegiatan
operasional dari masing-masing pelayanan hendaknya disusun dalam suatu
sistematika yang rinci diantaranya[7]
:
1. Tujuan khusus pelayanan konseling
2. Kriteria keberhasilan pelayanan konseling
3. Lingkup pelayanan konseling
4. Rincian dan jadwal kegiatan pelayanan
konseling
5. Metode dan teknik layanan konseling
6. Sarana pelayanan konseling
7. Evaluasi dan penelitian pelayanan
konseling
8. Evaluasi proses dan hasil
Terdapat dua aspek yang dievaluasi, yaitu aspek
penilaian proses dan aspek penilaian hasil. Penilaian proses dimaksudkan untuk
mengetahui sampai sejauh mana keefektivan layanan dilihat dari prosesnya,
sedangkan penilaian hasil dimaksudkan untuk memperoleh informasi keefektivan
layanan dilihat dari hasilnya.
Yang
termasuk dalam aspek penilaian proses yaitu kesesuaian antara pelaksanaan dan
rancangan program, tingkat partisipasi personel, hambatan-hambatan yang
dialami, dan respon dari konseli, keluarga serta kepala sekolah. Sedangkan yang
termasuk dalam aspek penilaian hasil yaitu kualitas ketaqwaan kepada Tuhan YME,
kualitas hasil belajar, kualitas sikap social siswa, kualitas kedisiplinan
siswa dan prestasi belajar.
Dalam melaksanakan evaluasi program ditempuh
langkah-langkah berikut[8]
:
1. Merumuskan masalah atau beberapa
pertanyaan. Pertanyaan yang disiapkan harus terkait dengan dengan dua aspek
pokok yang dievaluasi : (1) tingkat keterlaksanaan program dan (2) tingkat
ketercapaian tujuan program.
2. Mengembangkan dan menyusun instrument
pengumpul data. Untuk memperoleh data yang diperlukan, maka konselor perlu
menyusun instrumen yang relevan dengan kedua aspek diatas. Instrumen itu
diantaranya inentori, angket, pedoman wawancara, pedoman observasi dan studi
dokumentasi.
3. Mengumpulkan dan menganalisis data. Setelah
data diperoleh, maka data itu dianalisis. Yaitu menelaah tentang program apa
saja yang telah dan belum dilaksanakan, serta tujuan mana saja yang telah dan
belum tercapai
4. Melakukan tindak lanjut (follow up). Berdasarkan
temuan yang diperoleh, maka dapat dilakukan kegiatan tindak lanjut, yaitu : (1)
memperbaiki hal-hal yang dipandang lemah, kurang tepat, atau tujuan yang ingin
dicapai dan (2) mengembangkan program, dengan cara merubah atau menambah
beberapa hal yang dipandang tepat untuk meningkatkan efektivitas program.
BAB III
PENUTUP
- Kesimpulan
1.
Komponen-
komponen di dalam pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah yaitu
pengumpulan data, pemberian informasi, penempatan, konseling, konsultasi, dan
evaluasi program
2.
Masing-masing
komponen memiliki fungsi khusus dalam pelaksanaannya
- Saran
Demi tercapainya pembelajaran bimbingan dan konseling
yang baik di sekolah, seorang guru BK juga seharusnya memperhatikan setiap
komponen-komponen peayanan yang diberikannya.
Daftar Pustaka
[1] Hasan, Pengertian Konseling. Diakses dari http://www.kulpulan-materi.blogspot.com/2012/04/pengertian-konseling.html pada tanggal 8 maret 2013 pukul 11.35 WIB
[2] Anneahira. Pengertian,Tujuan, dan Manfaat Bimbingan Konseling.
Diakses dari http://anneahira.com/bimbingan
konseling.htm . pada tanggal 8 maret 2013 pukul 11.25 WIB
[3] Amar Faruq. Jendela Psikologi Pendidikan Indonesia. Diakses dari http://amarfaruqspd.blogspot.com/2010/08/macam-macam-konseling.html
pada tanggal 8 maret 2013 pukul 11.28 WIB
[5] Zona Prasko. Pengertian konsultasi dan proses konsultasi. Diakses
dari http://zona-prasko.blogspot.com/2012/10/pengertian-konsultasi-dan-proses.html?m=1
pada tanggal 9 maret 2013 pukul 16.27 WIB
[7] Akhmad Harum. Penyelenggaraan Evaluasi Pelaksanaan Bimbingan dan
Konseling di Sekolah. Diakses dari http://www.bukunnq.wordpress.com/penyelenggaraan-evaluasi-pelaksanaan-bimbingan-dan-konseling
pada tanggal 8 maret 2013 pukul 11.42 WIB
[8] Akhmad Sudrajat. Konsep Evaluasi Program Bimbingan danKonseling.
Diakses dari http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2012/02/03/evaluasi-program-bimbingan-dan-konseling
. pada tanggal 8 maret 2013 pukul 11.38 WIB
